Jumat, 02 November 2012
ASUHAN PADA BAYI 2-6 HARI
A. MINUM
ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi, yang mengandung zat gizi sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, baik kualitas dan kuantitas.
ASI diberikan:
-sesuai dengan keinginan ibu.
-atau sesuai kebutuhan bayi (2-3 jam bergantian antara sebelah kiri dan sebela kanan)
Keuntungan ASI:
-untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi
-untuk mempereran hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi yang akan berpengaruh pada proses pembentukan emosi positif si anak.
Komposisi ASI:
-kalori, protein, laktalbumin, kasein, air, lemak, karbohidrat, mineral.
B.BAB
-Jumlah feses bayi lahir cukup bervariasi dan jumlah paling banyak antara hari ke 3 dan ke 6. Bayi akan mengeluarkan mekonium, dimana fesesnya lengket berwarna hitam kehijauan selama 2 hari pertama.
-Feses bayi yang diberi ASI akan berubah warna menjadi hijau emas, lunak dan terlihat seperti bibit atau seedy, yang tidak menyebabkan iritasi pada kulit bayi, sedangkan coklat gelap seperti pasta atau padat.
-Bayi yang berdekasi segera setelah makan merupakan sesuatu yang normal. Jumlah feses akan berkurang pada minggu ke 2, yang awalnya frekuensi defekasi sebanya 5 atau 6 kali setiap hari/ tiap diberi makan yang menjadi 1 atau 2 kali sehari.
-Bayi mulai memiliki pola defekasi yang normal karena adanya tambahan makanan padat, sehingga feses bayi akan menyerupai feses orang dewasa.
C.BAK
-Bayi mulai memiliki fungi ginjal yang sempurna selama 2 tahun pertama kehidupannya.
-Biasanya terdapat urine dalam jumlah yang kecil pada kandungan kemih bayi saat lahir,tetapi ada kemungkinan urine tersebut tidak di keluarkan selama 12-24 jam.
urine pucat,kondisi ini menunjukan masukan cairan yang cukup.
-Umumnya bayi cukup bulan akan mengeluarkan urine 15-16 ml/kg/hari.
-Untuk menjaga bayi tetap bersih,hangat dan kering,maka setelah bak harus di ganti popoknya minimal 4-5 x/hari.
-Dalam 2 mg pertama setelah lahir,bayi normalnya sering tidur,bayi baru lahir sampai usia 3 bulan rata-rata tidur selama 16 jam sehari.
-Pada umumya bayi terbangun sampai malam hari pada usia 3 bulan.
-Sebaiknya ibu selalu menyediakan selimut dan ruanganya yang hangat,serta memastikan bayi tidak terlalu panas/terlalu dingin.
-Jumlah waktu tidur bayi akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia bayi.
E.KEBERSIHAN KULIT
-kebersihan kulit bayi perlu benar-benar dijaga,walaupun mandi dengan membasahi seluruh tubuh tidak harus di lakukan setiap hari.tetapi,bagian-bagian seperti muka,bokong,dan tali pusat perlu dibersihkan secara teratur.
-Sebaiknya sebelum memegang bayi terlebih dulu mencuci tangan.
F.KEAMANAN
Hal-hal yang harus di perhatikan dalam menjaga keamanan bayi adalah dengan dengan tetap menjaganya,jangan sekalipun meninggalkan bayi tanpa adanya menunggu. Selain itu juga perlu di hindari untuk memberikan apapun ke mulut bayi selain ASI,karena bayi bisa tersedak dan jangan menggunakan alat penghangat di tempat tidur bayi.
G.TANDA-TANDA BAHAYA
-Pernapasan sulit / lebih dari 60x/menit.
-Terlalu hangat (>380C ) atau terlalu dingin (<360C )
-Bayi kulit kering ( terutama 24 jam pertama ) berwarna biru , pucat atau memar.
-Isapan saat menyusu lemah,rewel,sering muntah,dan mengatuk berlebihan.
-Tali pusat merah,bengkak,keluar cairan,berbau busuk,dan berdarah.
-Terdapat tanda-tanda infeksi seperti suhu tubuh meningkat,merah,bengkak,bau busuk,keluar cairan,dan pernafasan sulit.
-Tidak BAB dalam 3 hari,tidak BAK dalam 24 jam,feses lembek atau ecair,sering berwana hijau tua,dan terdapat lendir atau darah.
-Menggigil,rewel,lemas,mengantunk,kejang,tidak bisa tenang,menagis terus menerus.
H.PENYULUHAN BAYI SEBELUM PULANG
-Perawatan tali pusat
Telah banyak di lakukan uji klinis untuk membandingkan cara perawatan tali pusat agar tidak terjadi peningkatan infeksi,yaitu dengan membiarkan luka tali pusat terbuka edan membersihkan luka hanya dengan air bersih.
Negara-negara yang beriklim tropis perlu mewaspadai penggunaan alkohol yang dulunya populer dan terbukti efektif untuk membersikan tali pusat,karna sesungguhya alkohol akan mudah menguap di daerah panas dan dengan demikian efektifitasnya akan menurun.begitupun dengan bedak antiseptik.
Jadi cara yang paling efektif adalah dengan membiarkan tali pusat tetap terbuka ,mengering dan hanya di bersihkan setiap hari dengan air bersih.dan bidan perlu memebrikan informasi ini pada tiap ibu agar tidak terjadinya infeksi karena terjadinya peningkatan kelembaban pada kulit bayi.
-Pemberian ASI
-Jaga kehangatan bayi
Berikan bayi kepada ibu secepat mungkin,karena kotak antara ibu dengan kulit bayi sangat penting dalam rangka menghangatkan serta mempertahankan panas tubuh bayi.apabila suhu bayi <36,5oC segera hangatlah bayi dengan teknik metode kangguru.
-Tanda-tanda bahaya
Jika muncul tanda-tanda bahaya,ajarkan ibu untuk:
1.Memberikan penolongan pertama sesuai kebutuhan sampai bayi memperoleh perawatan medis lanjutan.
2.Membawa bayi ke RS atau klinik terdekat untuk perawatan tindakan segera.
-Imunisasi
Adalah suatu cara memproduksi imunitas aktif buatan untuk melindungi diri melawan penyakit tertentu dengan cra memasukkan suatu zat dalam tubuh melalui penyuntikan atau secara oral.
-Perawatan harian atau rutin.
-Pencegahan infeksi dan kecelakaan.
Beranda
Langgan: Entri (Atom)
Jam
Calender
Free Blog Content
Fish
Jumlah Pengunjung
cash advance payday loan
Kesempatan2
Kesempatan3
Share it
Blog Archive
• 2010 (1)
o Desember (1)
Ilmu Kesehatan
Baris Video
powered by
Didukung oleh Blogger.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
About Me
Kumpulan Tugas D3 Kebidanan
Lihat profil lengkapku
Pengikut
BAHAN-BAHAN PEMBENTUK ASI
Roesli (2000) membagi ASI menurut stadium laktasi menjadi tiga, yaitu :
Kolostrum (Susu Jolong) 1) Kolostrum yaitu ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke4 setelah melahirkan.
2) Kolostrum merupakan cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi.
3) Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara, mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar payudara sebelum dan setelah masa puerperium.
4) Komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari selalu berubah.
5) Merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuning kuningan, lebih kuning dibandingkan dengan susu yang matang.
6) Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekonium dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi dan makanan yang akan datang.
7) Lebih banyak mengandung protein dibanding dengan ASI yang matur, tetapi berlainan dengan ASI yang matur. Pada kolostrum protein yang utama adalah globulin (gamma Globulin).
Kolostrum adalah cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi.
Kolostrum ini keluar sejak hari pertama sampai ke-4/ke-7.
Meskipun kolostrum yang keluar sedikit menurut ukuran kita, tetapi volume kolostrum yang ada dalam payudara mendekati kapasitas lambung bayi yang berusia 1-2 hari. Volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam.
Kolostrum yang encer dan seringkali berwarna kuning atau dapat pula jernih ini lebih menyerupai darah daripada susu, sebab mengandung sel darah putih yang dapat membunuh kuman penyakit.
Kolostrum mengandung zat anti infeksi 10-17 kali lebih banyak dibandingkan ASI matang.
Protein dalam kolostrum lebih banyak daripada ASI matang, kadar karbohidrat dan lemak lebih rendah dibandingkan ASI matang, dan mengandung total energi lebih rendah daripada ASI matang.
Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bagi bayi makanan yang akan datang.
ASI Transisi atau ASI Peralihan
1) Yaitu ASI yang keluar sejak hari ke-4 sampai hari ke-10 dimasa laktasi, tetapi adapula pendapat yang mengatakan bahwa ASI matur terjadi pada minggu ke-3 sampai dengan minggu ke-5.
2) Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur.
3) Kadar protein makin merendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin meninggi.
c.AirSusuMatang(Mature)
1) Merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya, komposisi relatif konstan (adapula yang menyatakan bahwa komposisi ASI relatif konstan baru mulai minggu ke-3 sampai minggu ke-5).
2) Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayinya sampai umur 6 bulan.
3) Merupakan suatu cairan yang berwarna putih kekuning-kuningan yang diakibatkan warna garam Ca-caseinat, riboflavin, dan kariten yang terdapat di dalamnya.
4) Tidak menggumpal jika dipanaskan.
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4/ke-7 sampai hari ke-10/ke-14.
Kadar protein makin merendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi.Volume akan makin meningkat.
ASI Matang (Mature)
ASI mature yaitu ASI yang keluar setelah hari ke-14 dan seterusnya. Komposisi ASI relatif konstan
Hormon dan Reflek yang Menghasilkan ASI
Hormon Prolaktin
Prolaktin dihasilkan oleh kelenjar hipofise bagian depan. Prolaktin akan merangsang kelenjar payudara untuk memproduksi ASI.
Makin banyak ASI dikeluarkan atau dikosongkan dari payudara maka akan semakin banyak ASI diproduksi.
Bila mengisap ASI maka ASI akan dikeluarkan dari gudang ASI (sinus lactiferus). Proses pengisapan ini akan merangsang ujung saraf di sekitar payudara. Selanjutnya, saraf ini akan membawa pesan ke bagian depan kelenjar hipofise untuk memproduksi prolaktin.
Prolaktin kemudian akan dialirkan oleh darah ke kelenjar payudara sampai pembuatan ASI. Kejadian dari perangsangan payudara sampai pembuatan ASI disebut refleks pembentukan ASI atau reflek prolaktin.
Hormon Oksitosin
Hormon oksitosin berasal dari kelenjar hipofise bagian belakang. Setelah ASI diproduksi, ASI akan dikeluarkan dari pabrik susu (alveolus) dan dialirkan ke gudang susu (sinus lactiferus). Pengeluaran ASI ini terjadi karena sel otot halus di sekitar kelenjar payudara mengerut sehingga memeras ASI keluar.
Oksitosin akan keluar jika ujung saraf di sekitar payudara dirangsang oleh isapan bayi. Oksitosin masuk ke dalam darah menuju payudara. Kejadian ini disebut reflek pengeluaran atau reflek okistosin (let down reflex).
Reflek oksitosin lebih rumit daripada reflek prolaktin. Pikiran, perasaan, dan sensasi seorang ibu akan sangat mempengaruhi reflek ini.
Seorang ayah mempunyai peran yang sangat penting dalam keberhasilan ibu menyusui, terutama untuk menjaga agar reflek oksitosin tetap lancar
Gambar. Perbedaan kolustrum, ASI transisi dan ASI matur
Tabel. Kandungan kolustrum, ASI transisi dan ASI matur
Kandungan
Kolustrum
Transisi ASI matur
Energi (kgkal)
57,0 63,0 65,0
Laktosa (gr/100 ml)
6,5 6,7 7,0
Lemak (gr/100 ml)
2,9 3,6 3,8
Protein (gr/100 ml)
1,195 0,965 1,324
Mineral (gr/100 ml)
0,3 0,3 0,2
Immunoglubin :
Ig A (mg/100 ml) 335,9 - 119,6
Ig G (mg/100 ml) 5,9 - 2,9
Ig M (mg/100 ml) 17,1 - 2,9
Lisosin (mg/100 ml) 14,2-16,4 - 24,3-27,5
Laktoferin
420-520 - 250-270
Kehamilan dengan gangguan herpes simpleks
Kehamilan dengan gangguan herpes simpleks dapat tertulari pada bayi atau disebut herpes neonatus. Herpes juga dapat ditularkan pada bayi dalam minggu-minggu pertama kehidupan bila bayi dicium oleh seseorang dengan luka herpes mulut. Walau jarang, herpes dapat ditularkan melalui sentuhan, bila seseorang menyentuh luka herpes dan langsung menyentuh bayi. Namun ada kewaspadaan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan dari ibu-ke-bayi.
Bila ibu hamil mengalami gejala kelamin, atau ada risiko kita terpajan pada herpes simpleks, langsung memberi tahu dokter kandungan atau bidannya. Ternyata herpes dapat tidur selama bertahun-tahun. Yang tampaknya infeksi baru kadang kala adalah yang lama, dan menimbulkan gejala untuk pertama kali.
Herpes Simpleks
• Herpes simpleks berkenaan dengan sekelompok virus yang menulari manusia. Serupa dengan herpes zoster, herpes simpleks menyebabkan luka-luka yang sangat sakit pada kulit. Gejala pertama biasanya gatal-gatal dan kesemutan/perasaan geli, diikuti dengan lepuh yang membuka dan menjadi sangat sakit. Infeksi ini dapat dorman (tidak aktif) dalam sel saraf selama beberapa waktu. Namun tiba-tiba infeksi menjadi aktif kembali. Herpes dapat aktif tanpa gejala atau tanda kasatmata.
• Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) adalah penyebab umum untuk luka-luka demam (cold sore) di sekeliling mulut. HSV-2 biasanya menyebabkan herpes kelamin. Namun HSV-1 dapat menyebabkan infeksi pada kelamin dan HSV-2 dapat menginfeksikan daerah mulut melalui hubungan seks.
• HSV adalah penyakit yang sangat umum. Di AS, kurang lebih 45 juta orang memiliki infeksi HSV – kurang lebih 20% orang di atas usia 12 tahun. Diperkirakan terjadi satu juta infeksi baru setiap tahun. Prevalensi dan kejadian di Indonesia belum diketahui. Prevalensi infeksi HSV sudah meningkat secara bermakna selama dasawarsa terakhir. Sekitar 80% orang dengan HIV juga terinfeksi herpes kelamin.
• Infeksi HSV-2 lebih umum pada perempuan. Di AS, kurang lebih satu dari empat perempuan dan satu dari lima laki-laki terinfeksi HSV-2. HSV kelamin berpotensi menyebabkan kematian pada bayi yang terinfeksi. Bila seorang perempuan mempunyai herpes kelamin aktif waktu melahirkan, sebaiknya melahirkan dengan bedah sesar.
• Jangkitan HSV berulang dapat terjadi bahkan pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat. Jangkitan HSV berjangka lama mungkin berarti sistem kekebalan tubuh sudah lemah. Ini termasuk Odha, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untungnya, jarang ada jangkitan lama yang tidak menjadi pulih kecuali pada Odha dengan jumlah CD4 yang sangat rendah. Jangkitan lama ini juga sangat jarang terjadi setelah tersedianya terapi antiretroviral (ART).
• Penularan herpes simpleks terjadi melalui kontak langsung dengan kulit yang melempuh atau melalui cairan yang keluar dari kulit yang melepuh atau melalui kontak seksual pada orang dewasa. HSV 1 juga bisa ditularkan melalui kontak sosial pada masa anak-anak. Prevelansi HSV 2 lebih tinggi pada kelompok HIV positif dan mereka yang melakukan hubungan seks tanpa kondom.
• Herpes yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV) adalah sejenis penyakit yang menjangkiti mulut, kulit, dan alat kelamin. Penyakit ini menyebabkan kulit melepuh dan terasa sakit pada otot di sekitar daerah yang terjangkit.Hingga saat ini, penyakit ini masih belum dapat disembuhkan, tetapi dapat diperpendek masa kambuhnya.
• Virus herpes simpleks terdiri dari 2 jenis, yaitu herpes simplex 1 (HSV-1) dan herpes simplex virus 2 (HSV 2). HSV1 umumnya menyerang kulit dan selaput lendir mukosa di mata, mulut, hidung dan telinga sedangkan HSV2 biasanya menyerang kulit dan selaput lendir pada alat kelamin dan perianal.
• Pada kulit HSV1 membentuk verikel-verikel kecil sedangkan HSV2 membentuk verikel-verikel besar, tebal dan terpusat. Gejala klinis HSV1 mirip gejala flu yang disertai bisul atau borok yang timbul di sekitar mulut. Sedangkan HSV2 merupakan penyebab utama herpes genitalis, berupa lepuh-lepuh pada kelamin yang terasa menyakitkan. Obat anti virus acylovir dalam kondisi tertentu dapat membantu meringankan rasa sakit.
Herpes Simpleks Pada Kehamilan
Untuk wanita hamil yang terjangkit HSV2 harus ditangani secara serius karena virus ini dapat menembus plasenta dan dapat menimbulkan kerusakan pada organ janin hingga menyebabkan kematian. Bila ibu hamil dan terinfeksi herpes simpleks, mungkin takut akan risiko menularkannya pada bayi. Sebetulnya risiko itu sangat amat rendah terutama bila kita sudah agak lama terinfeksi herpes. Kurang dari 0,1% bayi terlahir di AS setiap tahun mendapatkan herpes saat lahir. Sebaliknya, kurang lebih 25-30% ibu hamil terinfeksi herpes simpleks. Hal ini berarti kebanyakan perempuan dengan herpes simpleks melahirkan bayi yang sehat.
Risiko tertinggi herpes neonatus terjadi pada bayi bila ibunya tertular herpes simpleks pada akhir kehamilan. Walau jarang, hal ini memang terjadi, dan dapat menyebabkan penyakit yang berat, bahkan gawat, pada bayi. Cara terbaik untuk melindungi bayi kita adalah untuk mengetahui fakta mengenai herpes simpleks serta bagaimana melindungi dirinya. Langkah pertama yang mungkin adalah mengetahui apakah kita sudah terinfeksi virus itu, dengan melakukan tes untuk virus tersebut.
Bayi paling berisiko tertular herpes neonatus bila ibunya sendiri tertular herpes simpleks pada akhir masa kehamilan. Hal ini terjadi karena ibu yang baru tertular belum memiliki antibodi terhadap virus, sehingga tidak ada perlindungan untuk bayi saat lahir. Tambahan, infeksi herpes baru sering aktif, sehingga ada kemungkinan yang lebih tinggi bahwa virus akan timbul di saluran kelahiran saat melahirkan.
Seorang perempuan yang terinfeksi herpes simpleks sebelum hamil memiliki risiko sangat rendah menularkan virusnya ke bayinya. Hal ini karena sistem kekebalan membuat antibodi yang dialihkan pada bayi melalui plasenta. Walau herpes menjadi aktif di saluran kelahiran saat melahirkan, antibodi tersebut melindungi bayi. Tambahan, bila ibu itu mengetahui dia terinfeksi herpes simpleks, dokter atau bidan dapat mengambil langkah untuk melindungi bayi.
Manifestasi Klinis Intrauterine dan perinatal infeksi
• Herpes simpleks kongenital infeksi virus adalah entitas yang sangat langka dan telah jarang dilaporkan dalam literatur. Manifestasi meliputi lesi kulit dan bekas luka, korioretinitis, dan mikrosefali..
• Infeksi virus Herpes simpleks neonatal terjadi tertular melalui saluran kelamin seorang wanita tanpa gejala. Sejarah infeksi sebelumnya dan kehadiran antibodi ibu adalah pelindung, karena sekitar setengah dari neonatus terkena herpes simplex virus utama ibu kontrak infeksi virus dibandingkan dengan kurang dari 5% dari mereka yang terkena herpes simpleks berulang penyakit virus.
• Herpes neonatorum dapat dikategorikan sebagai berikut Kulit, mata, dan selaput lendir (Skin, eye, and mucous membrane atau SEM)
• Infeksi virus herpes simpleks terbatas pada riwayat SEM menyumbang sekitar 20% dari semua herpes neonatal simpleks infeksi virus.
• Bayi dengan infeksi SEM umumnya hadir pada usia 10-12 hari.
• Lesi kulit cenderung muncul pada tempat trauma.
• Banyak bayi baru lahir dengan herpes simplex virus-terkait SEM penyakit tanpa dengan gejala penyakit sistemik.
• Hasil dari penyakit SEM sangat baik dengan terapi antivirus yang cepat, namun 75% kasus berkembang menjadi penyakit disebarluaskan tanpa pengobatan.
• Infeksi diseminata: infeksi diseminata sekarang menyumbang sekitar 25% infeksi virus herpes simpleks pada bayi baru lahir. Pengakuan dan pengobatan herpes simplex virus terkait penyakit SEM awal telah menghasilkan tingkat lebih rendah dari pengembangan menjadi penyakit dibandingkan tahun-tahun terakhir.
• SSP infeksi: Hampir sepertiga dari bayi dengan infeksi virus herpes simpleks neonatal memiliki ensefalitis sebagai manifestasi tunggal penyakit. Pasien biasanya datang dengan gejala dan tanda-tanda penyakit pada 2-3 minggu usia. Manifestasi awal meliputi kelesuan, lekas marah, dan kejang fokal. Tanpa pengobatan, kebanyakan anak mati dengan penyakit SSP dan selamat mempertahankan gangguan neurologis parah.
• Herpes simplex virus infeksi SSP Herpes simplex virus adalah penyebab paling umum dari ensefalitis sporadis di Amerika Serikat. Sepertiga dari semua kasus ensefalitis herpes simplex virus diyakini terjadi pada populasi anak.
Herpes simpleks ensefalitis virus dapat merupakan manifestasi dari infeksi primer atau berulang dengan virus. Infeksi mungkin memiliki berbahaya atau onset mendadak. Pasien datang dengan sakit kepala, kesadaran, dan kelainan neurologis fokal sering konsisten dengan keterlibatan lobus temporal.
• Meningitis aseptik yang disebabkan oleh virus herpes simpleks dapat terjadi setelah infeksi primer HSV-2 genital. Pasien dengan herpes simplex virus meningitis hadir dengan sakit kepala, demam, leher kaku, dan fotofobia. Gejala biasanya mulai 3-12 hari setelah timbulnya lesi genital. Mereka mencapai keparahan maksimum dengan 2-4 hari menjadi penyakit, dan secara bertahap berkurang dari 2-3 hari.
• Disfungsi dari sistem saraf otonom dan myelitis melintang telah dikaitkan dengan infeksi herpes simpleks virus genital. Gejala mungkin termasuk hyperesthesia atau anestesi dari punggung bagian bawah, perineum, atau wilayah sakral. Retensi urin dan konstipasi adalah gejala yang berhubungan lainnya.
• Infeksi pada host immunocompromised Infeksi virus herpes simplex virus lebih berat pada anak-anak immunocompromised sama dengan pada orang dewasa. Infeksi merupakan sumber morbiditas tetapi sering namun jarang fatal. Tingkat keparahan penyakit sebanding dengan defisiensi respon imun selular.
• Ditandai oleh adanya lesi oral dan kelamin yang berlangsung perlahan-lahan melibatkan permukaan mukosa yang berdekatan dan menyebabkan esofagus, trakea atau paru keterlibatan, yang menyebabkan infeksi menyebar.
• Herpes simpleks infeksi virus lain Herpes simpleks infeksi virus pada ujung jari disebut sebagai herpetic whitlow. Hal ini menyajikan sebanyak infeksi lain pada ujung jari. Demam terkait dan adenopati daerah diperbesar yang umum. Contoh ditunjukkan pada gambar di bawah. Herpes whitlow pada bayi.
• Herpes gladiatorum adalah manifestasi dari penyakit herpes terlihat pada pegulat Ini hasil dalam herpes simpleks menyakitkan lesi virus, sering dengan vesikel kulit banyak. Contoh ditunjukkan pada gambar di bawah. Herpes gladiatorum dalam pegulat remaja. Memanifestasikan keratoconjunctivitis dengan onset akut dari nyeri, keluarnya cairan berair, gatal, penglihatan kabur, pembengkakan tutup, dan injeksi konjungtiva nekrosis retina akut dapat mengakibatkan kebutaan..
• Mollaret meningitis, meningitis aseptik berulang jarang terkait dengan virus herpes simpleks. Demam ringan, sakit kepala, dan mialgia mungkin terjadi dengan episode ini. Sekitar 50% pasien memiliki gejala neurologis fana iritasi meningeal. Penyakit ini biasanya secara spontan remits selama beberapa hari. Virus herpes simpleks adalah salah satu faktor paling umum untuk mempercepat menjadi eritema multiforme (EM). Sekitar 15% pasien dengan EM memberikan sejarah herpes simpleks berulang infeksi virus sebelum lesi kulit meluas
Gangguan Kelainan pada Alat Reproduksi Pria Wanita
- Sistem reproduksi manusia dapat mengalami gangguan, baik disebabkan oleh kelainan maupun penyakit. Gangguan sistem reproduksi dapat terjadi baik pada wanita maupun pria.
1. Gangguan pada Sistem Reproduksi Wanita
Gangguan pada sistem reproduksi wanita dapat berupa gangguan menstruasi, kanker genitalia, endometriosis, dan infeksi vagina.
a. Gangguan menstruasi
Gangguan menstruasi terdiri atas amenore primer dan amenore sekunder. Amenore primer adalah tidak terjadinya manarkhe (menstruasi) sampai usia 17 tahun dengan atau tanpa perkembangan seksual sekunder. Amenore sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 – 6 bulan atau lebih pada orang yang telah mengalami siklus menstruasi.
b. Kanker genitalia
Kanker genitalia pada wanita dapat terjadi pada vagina, serviks, dan ovarium. Kanker vagina tidak diketahui penyebabnya, mungkin karena iritasi yang disebabkan oleh virus. Pengobatannya dengan kemoterapi dan bedah laser. Kanker serviks terjadi bila pertumbuhan sel-sel yang abnormal di seluruh lapisan epitel serviks. Penanganannya dengan pengangkatan uterus, oviduk, ovarium, sepertiga bagian atas vagina, dan kelenjar limfa panggul. Kanker ovarium gejalanya tidak jelas. Biasanya dapat berupa rasa pegal pada panggul, perubahan fungsi saluran pencernaan, atau mengalami pendarahan vagina abnormal. Penanganannya dengan kemoterapi dan pembedahan.
c. Endometriosis
Endometriosis adalah keadaan di mana jaringan endometrium terdapat di luar rahim, yaitu dapat tumbuh di sekitar ovarium, oviduk, atau jalur di luar rahim. Gejalanya berupa nyeri perut, pinggang terasa sakit, dan nyeri pada saat menstruasi. Jika tidak ditangani akan menyebabkan sulit terjadinya kehamilan. Penanganannya dengan pemberian obat-obatan, laparoskopi, atau bedah laser.
d. Infeksi vagina
Gejalanya berupa keputihan dan timbul gatal-gatal. Infeksi ini menyerang wanita usia produktif terutama yang menikah. Penyebabnya adalah akibat hubungan kelamin.
e. Penyempitan Saluran Telur/Oviduk
Kelainan ini merupakan faktor bawaan, tetapi adapula yang disebabkan karena infeksi kuman tertentu. Saluran oviduk yang sempit akan membuat sperma sulit untuk menjangkau bagian dalam saluran tersebut, sehingga menyebabkan pembuahan sulit terjadi.
f. Kemandulan/infertilitas
Dalam keadaan normal, seorang laki-laki yang mengalami ejakulasi mengeluarkan cairan semen atau mani sebanyak 4 mililiter setiap kalinya. Dalam 4 ml mani tersebut terkandung 120 juta ekor sperma. Jumlah ini
memiliki peluang untuk dapat membuahi sel telur. Apabila kandungan sperma di bawah angka 120 juta dalam setiap ejakulasi, sudah termasuk tidak subur atau kategori mandul. Bagi wanita, kesuburan ditandai dengan matangnya satu buah sel telur sekali dalam sebulan. Jika dalam perjalanan hidupnya tidak setiap bulan sel telur yang siap dibuahi, wanita tersebut dikategorikan kurang subur atau mandul.
g. Kanker Cerviks (Mulut Rahim)
Gangguan ini dialami oleh wanita. Kanker leher rahim adalah kanker yang menyerang leher rahim perempuan melalui tahap-tahap pra-kanker (displasia ringan), displasia berat, kanker yang belum menyebar dan kanker yang akan menyebar. Pada stadium lanjut, kanker ini memiliki gejala pendarahan setelah senggama, pendarahan setelah menopouse dan keputihan atau keluar cairan kekuningkuningan, berbau dan bercampur dengan darah.
h. Kanker Payudara
Penyakit ini juga rentan menyerang wanita. Seorang wanita yang tidak pernah menyusui besar kemungkinan dapat menderita penyakit ini.
i. Kanker Ovarium
Kanker ovarium adalah kanker yang menyerang indung telur kiri atau kanan, atau kedua-duanya. Kanker indung telur biasanya menyerang perempuan yang sudah menopouse (berumur 50 tahun ke atas).
j. Hamil Anggur (Mola Hidalidosa)
Hamil anggur merupakan suatu kehamilan yang tidak berisi janin, tetapi berisi gelembung-gelembung mola dan bekuan darah. Hamil anggur dapat menyebabkan kesakitan atau kematian karena pendarahan, tembusnya dinding rahim oleh proses mola dan infeksi.
k. Kanker Prostat
Kanker prostat adalah kanker yang menyerang kelenjar prostat pada pria. Kanker ini menyebabkan sel-sel dalam kelenjar prostat tumbuh abnormal dan tidak terkendali. Kanker prostat biasanya menyerang pria usia 60 tahun ke atas.
l. Condiloma Accuminata
Penyakit condiloma accuminata disebabkan oleh virus Human papilloma. Penyakit ini ditandai dengan timbulnya kutil yang dapat membesar dan akhirnya dapat menimbulkan kanker mulut rahim.
2. Gangguan pada sistem Reproduksi Pria
Gangguan pada sistem reproduksi pria dapat berupa hipogonadisme, kriptorkidisme, prostatitis, epididimitis, dan orkitis.
a. Hipogonadisme, merupakan penurunan fungsi testis yang disebabkan oleh gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen dan estrogen. Gangguan ini menyebabkan infertilitas, impotensi, dan tidak adanya
tanda-tanda kepriaan. Penanganannya dapat dilakukan dengan terapi hormon.
b. Kriptorkidisme, merupakan kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam scrotum pada waktu bayi. Penangannya dapat dilakukan dengan pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang testoteron.
c. Uretritis, peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering buang air kecil. Penyebabnya adalah Chlamydia trachomatis, Ureplasma urealyticum, atau virus herpes.
d. Prostatitis, merupakan peradangan prostat. Penyebabnya adalah bakteri Escherichia coli ataupun bukan bakteri.
e. Epididimitis, merupakan infeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi pria. Penyebabnya adalah E. coli dan Chlamydia.
f. Orkitis, merupakan peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus parotitis. Jika terjadi pada pria dewasa dapat menyebabkan infertilitas.
f. Impotensi
Kelainan ini dialami oleh laki-laki, yaitu suatu keadaan penis yang tidak dapat melakukan ereksi (tegang), sehingga sulit untuk melakukan kopulasi (fertilisasi). Biasanya impotensi disebabkan oleh faktor hormonal, yaitu terhambatnya fungsi hormon reproduksi, bisa juga disebabkan oleh faktor psikologis atau emosional seseorang.
g. Sifilis
Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, penyakit ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual, transfusi darah, atau luka mikroskopis.
h. Gonorhoe (kencing nanah)
Penyakit gonorhoe adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Penyakit kelamin ini bisa menular melalui seks bebas. Gejalanya adalah keluar cairan berwarna putih, rasa nyeri pada saat buang air kecil, pada pria mulut uretra bengkak dan agak merah.
i. Sifilis (Raja singa)
Penyakit sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini menular melalui hubungan seksual. Gejala yang timbul adalah luka pada kemaluan, bintik atau bercak merah di tubuh, kelainan saraf, jantung, pembuluh saraf, dan kulit
INDUKSI PERSALINAN
Posted on November 1, 2008 by kuliahbidan
Induksi persalinan adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan.
(dari tidak ada tanda-tanda persalinan, distimulasi menjadi ada)
Bedakan dengan akselerasi persalinan, suatu upaya mempercepat proses persalinan.
(sudah ada tanda-tanda persalinan, namun kemajuannya lambat, sehingga diakselerasi menjadi cepat)
TANDA-TANDA PERSALINAN NORMAL
Pasien biasanya melaporkan rasa mules / sakit perut hilang-timbul, akibat his, yang makin lama, makin kuat dan makin sering.
Bisa dengan atau tanpa disertai keluar darah lendir atau cairan ketuban.
INDIKASI POKOK UNTUK INDUKSI PERSALINAN
1. untuk janin yang masih dalam kandungan, pertimbangannya adalah kondisi ekstrauterin akan lebih baik daripada intrauterin, atau kondisi intrauterin lebih tidak baik atau mungkin membahayakan.
2. untuk ibu, pertimbangannya adalah menghindari / mencegah / mengatasi rasa sakit atau masalah2 lain yang dapat membahayakan nyawa ibu.
Indikasi janin, misalnya : kehamilan lewat waktu (postmaturitas), inkompatibilitas Rh
Pada usia kehamilan postmatur, di atas 10 hari lebih dari saat perkiraan partus, terjadi penurunan fungsi plasenta yang bermakna, yang dapat membahayakan kehidupan janin (gangguan sirkulasi uteroplasenta, gangguan oksigenasi janin)
Indikasi ibu, misalnya : kematian janin intrauterin
Indikasi janin dan ibu, misalnya : pre-eklampsia berat
METODE INDUKSI PERSALINAN
Surgikal
Dengan cara :
1. melepaskan / memisahkan selaput kantong ketuban dari segmen bawah uterus (stripping), atau
2. memecahkan selaput kantong ketuban (amniotomi)
Stripping, dapat dengan cara :
1. manual (dengan jari tengah / telunjuk dimasukkan dalam kanalis servikalis)
2. dengan balon kateter Foley yang dipasang di dalam segmen bawah uterus melalui kanalis servikalis, diisi cairan (dapat sampai 100 cc pada Foley no.24), diharapkan akan mendorong selaput ketuban di daerah segmen bawah uterus sampai terlepas (BUKAN untuk dilatasi serviks).
Amniotomi, selaput ketuban dilukai / dirobek dengan menggunakan separuh klem Kocher (ujung yang bergigi tajam), steril, dimasukkan ke kanalis servikalis dengan perlindungan jari-jari tangan.
Medisinal
Dengan menggunakan obat-obat untuk stimulasi aktifitas uterus, misalnya spartein sulfat, prostaglandin (misoprostol-derivat prostaglandin) atau oksitosin.
Sedang dalam penelitian : penggunaan preprarat prostaglandin tablet misoprostol intravaginal (dipasang di ruang fornix).
Pada beberapa kepustakaan, induksi prostaglandin intravaginal disebutkan dapat dilakukan bersamaan dengan pemakaian balon kateter Foley (gambar).
Di FKUI/RSCM : digunakan juga oksitosin.
Dalam kolf 500 cc dextrose 5%, dicampurkan 5 IU oksitosin sintetik. Cairan oksitosin dialirkan melalui infus dengan dosis 0.5 mIU sampai 1.0 mIU per menit, sampai diperoleh respons berupa aktifitas kontraksi dan relaksasi uterus yang cukup baik.
Hati-hati, Kontraksi uterus yang terlalu kuat dan relaksasi yang kurang akan dapat berakibat buruk terhadap janin karena gangguan sirkulasi uteroplasental.
Evaluasi :
dapat diulang sampai dengan 3 kali. Jika persalinan belum maju, dinyatakan refrakter / induksi gagal.
Jika sudah terdapat aktifitas kontraksi uterus sebelumnya tetapi tidak baik (misalnya pada incoordinated uterine action), aktifitas tersebut dieliminasi lebih dahulu misalnya dengan pethidine 50 mg, baru dilakukan induksi.
TANDA-TANDA INDUKSI BAIK
1. respons uterus berupa aktifitas kontraksi miometrium baik
2. kontraksi simetris, dominasi fundus, relaksasi baik (sesuai dengan tanda-tanda his yang baik / adekuat)
3. nilai pelvik menurut Bishop (tabel)
PRINSIP !!
1. penting : monitor keadaan bayi, keadaan ibu, awasi tanda-tanda ruptura uteri
2. penting : harus memahami farmakokinetik, farmakodinamik, dosis dan cara pemberian obat yang digunakan untuk stimulasi uterus.
KONTRAINDIKASI INDUKSI PERSALINAN
1. kontraindikasi / faktor penyulit untuk partus pervaginam pada umumnya : adanya disproporsi sefalopelvik, plasenta previa, kelainan letak / presentasi janin.
2. riwayat sectio cesarea (risiko ruptura uteri lebih tinggi)
3. ada hal2 lain yang dapat memperbesar risiko jika tetap dilakukan partus pervaginam, atau jika sectio cesarea elektif merupakan pilihan yang terbaik.
Share this:
• StumbleUpon
• Digg
• Reddit
•
Rangsangan Cepat Dengan Induksi Persalinan
by syakur on May 8, 2012
Induksi persalinan adalah sebuah metode kedokteran untuk merangsang tanda-tanda terjadinya persalinan baik sebelum maupun lewat dari waktu persalinan normal yang biasanya telah diperhitungkan oleh dokter. Setiap ibu yang telah menanti kelahiran bayinya selama lebih dari sembilan bulan pastinya menginginkan proses kelahiran bayinya lancar dan aman sehingga ibu dan bayinya selamat. Tapi ada-ada saja hal-hal yang tidak dapat diprediksi atau kondisi-kondisi dari ibu maupun bayi yang memaksa proses kelahiran tidak berjalan seperti seharusnya. Persalinan dengan induksi biasanya dipilih oleh dokter sebagai jalan tengah yang harus diambil.
Sebab-Sebab Induksi Persalinan
Dilakukannya induksi persalinan sebenarnya memang disebabkan oleh berbagai kondisi dari ibu, bayi, atau kondisi-kondisi tertentu yang berhubungan dengan kelahiran. Ada beberapa sebab mengapa metode induksi dipilih yang sebagian besar dipilih berdasarkan kondisi kesehatan ibu, bayi, ketuban, dan masa kehamilan. Berdasarkan kondisi ibu, sebagian besar kelahiran dengan induksi dilakukan karena si ibu memiliki diabetes gestasional atau gula darah yang tidak terkontrol, tekanan darah tinggi, dan penyakit herpes. Persalinan melalui induksi sangat dibutuhkan dalam kondidi tersebut untuk menyelamatkan si ibu. Yang kedua adalah adanya pertimbangan pada bayi yang akan berakibat fatal jika bayi berada dalam kandungan terlalu lama.
Beberapa kondisi pada bayi yang memaksa dokter menerapkan induksi persalinan adalah oligohidramnion atau kurangnya air ketuban, lambatnya pertumbuhan bayi dalam kandungan, dan janin yang sudah lewat masa kelahirannya. Terjadinya air ketuban yang pecah sebelum waktu kelahiran atau masa kontraksi juga menjadi dampak yang mempengaruhi penerapan persalinan melalui induksi. Jika bayi tidak dikeluarkan dalam waktu paling tidak 24 jam setelah pecahnya ketuban, maka akan terjadi infeksi pada ibu dan juga bayinya. Umir kandungan yang telah melewati 9 bulan 10 hari yaitu kira-kira 7 hari lebih, bayi juga harus dikeluarkan dengan cara induksi ini agar tidak mengalami komplikasi. Ini dikarenakan plasenta yang menghubungkan ibu dan bayi sudah tidak berfungsi lagi.
Macam-Macam Teknik Induksi Persalinan
Ada dua teknik dari persalinan induksi yaitu teknik mekanik dan kimia. Teknik mekanik adalah teknik yang dilakukan secara manual. Ada beberapa cara mekanik yang biasanya dilakukan seperti memecahkan ketuban saat proses persalinan, memasangkan balon keteter di mulut rahim, dan menerapkan metode stripping. Teknik kimia pada induksi persalinan biasanya dilakukan dengan rangsangan obat baik dengan cara meminumnya, lewat infus, dan memasukkannya dalam vagina.
Ringkasan: Induksi persalinan adalah sebuah metode kedokteran untuk merangsang tanda-tanda terjadinya persalinan baik sebelum maupun lewat dari waktu persalinan normal yang biasanya telah diperhitungkan oleh dokter.
Mutu Pelayanan Kebidanan Bentuk Program Menjaga Mutu
A. Mutu Pelayanan Kebidanan
Tergantung dari unsur pelayanan kesehatan yang lebih diprioritaskan sebagai sasaran program menjaga mutu dapat dibedakan atas tiga macam:
1. Program menjaga mutu prospektif (prospective quality assurance)
Prinsip Dasar
PERIJINAN Kelayakan untuk melaksanakan kegiatan (standar input)
AKREDITASI Proses pelaksanaan pemenuhan standar pelayanan (standar input, proses dan output/outcome)
STANDARD Persyaratan dan criteria yang dilakukan oleh profesi terkait
SERTIFIKASI Kompetensi seseorang atau kelayakan peralatan
Program menjaga mutu prospektif adalah program menjaga mutu yang diselenggarakan sebelum pelayanan kesehatan. Pada bentuk ini, program dititik beratkan pada standar masukan dan standar lingkungan. Prinsip pokok dari program ini sering tercantum dalam banyak peraturan perundangan, beberapa diantaranya yang terpenting adalah:
1. Standarisasi (standardization)
Untuk dapat menjamin mutu dari pelayanan kesehatan, maka izin penyelenggaraan juga diberikan pada institusi yang telah memenuhi standar yang telah ditetapkan. Lazimnya mencakup; tenaga kerja, organisasi, manajemen, fasilitas, peralatan.
2. Perizinan (licensure)
Sekalipun standarisasi telah terpenuhi, bukan lalu mutu berarti mutu pelayanan selalu dapat dipertanggung jawabkan. Untuk mencegah pelayanan yang tidak bermutu, standarisasi perlu diikuti dengan perizinan yang lazimnya ditinjau secara berkala. Izin menyelenggarakan pelayanan kesehatan hanya diberkan kepada institusi kesehatan dan atau tenaga pelaksana yang memenuhi persyaratan
Mengapa harus ijin?
1. Fungsi pengaturan dan pengendalian pemerintah
2. Aspek perlindungan hokum
3. Kompetensi dan kewenangan
4. Mengurangi pelayanan dibawah standar
5. Memacu profesionalisme, efisiensi
Ijin Diberikan
1. Tenaga kesehatan/tenaga kerja : praktek tenaga medis, praktek bidan, ijin kerja asing. Ijin kerja malam bagi wanita dan lain-lain.
2. Institusi/sarana kesehatanRS, balai pengobatan, rumah bersalin, apotik, laboratorium dan lain-lain
3. Penggunaan peralatan : ijin penggunaan radioaktif,, radiologi, ijin boller, ijin genset, dan lain-lain.
3. Sertifikasi (certification)
Sertifikasi adalah tindak lanjut dari perizinan, yakni memberikan sertifikat (pengakuan) kepada suatu institusi atau tenaga pelaksana yang benar-benar telah dan atau tetap memenuhi persyaratan.
4. Akreditasi (accreditation)
Akreditasi adalah bentuk lain dari sertifikasi yang nilainya dipandang lebih tinggi. Lazimnya akreditasi tersebut dilakukan secar bertingkat, yakni yang sesuai dengan kemampuan institusi kesehatan dan atau tenaga pelaksana yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
Program menjaga mutu konkuren (concurrent quality assurance)
Program menjaga mutu konkuren adalah program menjaga mutu yang diselenggarakan bersamaan dengan pelayanan kesehatan. Perhatian utama ditujukan pada unsure proses, yakni memantau dan menilai tindakan medis dan non medis yang dilakukan. Program menjaga mutu konkuren ini paling sulit dilakukan karena ada faktor tenggang rasa kesejawatan. Kecuali apabila kebetulan menyeenggarakan pelayanan kesehatan dalam satu team. Atau kesejawatan (peer group) yang bertaggung jawab penyelenggaraan program menjaga mutu di institusi kesehatan masing-masing.
Program menjaga mutu retrospektif (retrospective quality assurance)
Program menjaga mutu retrospektif adalah program menjaga mutu yang diselenggrakan setelah pelayanan kesehatan. Fokus utama adalah lebih ditujukan pada keluaran (output) yakni memantau dan menilai penampilan pelayanan kesehatan.
ANTI RETROVIRAL
ANTI RETROVIRAL
Kanker leher rahim (serviks) invasif adalah salah satu dari tiga keganasan yang mendefinisikan AIDS. Studi terdahulu telah menunjukkan bahwa perempuan dengan HIV adalah lebih mungkin dibandingkan dengan perempuan HIV negatif untuk terinfeksi dengan tipe HPV yang berisiko tinggi atau menyebabkan kanker, lebih mungkin untuk menghapus HPV, dan lebih mungkin untuk mengembangkan tahap awal dari kelainan sel serviks. Namun, sebagian besar penelitian ini dilakukan sebelum ada kombinasi ART, dan dampak dari pengobatan yang efektif terhadap HPV dan penyakit yang terkait tidak sepenuhnya dipahami karena data yang bertentangan.
Howard Minkoff dari Maimonides Medical Center dan rekan melihat hubungan antara ART dan hasil HPV, berfokus pada kepatuhan terhadap pengobatan dan efektivitas – faktor yang belum banyak dinilai dalam studi sebelumnya.
Analisis ini melibatkan 286 perempuan HIV positif di studi Women’s Interagency HIV Study (WIHS) yang memulai ART selama masa tindak lanjut. Selama kunjungan studi setiap enam bulan, peserta dites dengan infeksi HPV dan kehadiran squamous intraepithelial lesions (SIL, juga dikenal sebagai neoplasia intraepitel).
Para peneliti membandingkan prevalensi (jumlah kasus), insiden (kasus baru terdeteksi), dan penyembuhan infeksi HPV dan SIL sebelum dan sesudah memulai ART; peserta diikuti selama lebih dari 2 tahun sebelum dan 2 tahun setelah mulai terapi, dan menjadi perbandingan kelompok pembanding mereka sendiri. Kepatuhan pengobatan didefinisikan sebagai menggunakan obat sesuai dengan yang telah ditentukan minimal 95% dari waktu. ART efektif didefinisikan sebagai rejimen yang sepenuhnya menekan replikasi HIV.
Langganan:
Postingan (Atom)